Rivalitas Tanpa Batas: Kisah Messi dan MbappƩ yang Kembali Mengguncang Piala Dunia 2026

Panggung Piala Dunia 2026 kembali dikejutkan oleh kelanjutan saga persaingan dua megabintang lintas generasi: Lionel Messi dan Kylian MbappƩ. Empat tahun setelah pertempuran epik di Qatar, keduanya masih belum berhenti mengukir sejarah baru di turnamen sepak bola terakbar di planet ini.

Final Piala Dunia 2022 di Lusail diakui sebagai salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah sepak bola. Saat itu, Messi berada di posisi kedelapan daftar top skor sepanjang masa Piala Dunia dengan 11 gol, sementara MbappƩ bahkan belum menembus sepuluh besar. Namun, laga tersebut justru menjadi batu loncatan bagi keduanya untuk mendobrak batas-batas baru yang sebelumnya mustahil digapai.

Memori Lusail 2022: Titik Balik Persaingan

Partai puncak di Qatar tidak hanya melahirkan trofi juara bagi Argentina lewat adu penalti yang menegangkan (4-2), tetapi juga mengubah peta rivalitas individu kedua pemain. Messi mencetak brace (dua gol), sementara MbappƩ membalasnya secara instan lewat torehan hattrick yang legendaris.

Usai laga tersebut, Messi sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap ketenangan mental MbappƩ yang sudah mencicipi gelar juara dunia di usia sangat muda pada edisi 2018, sebuah kontras tajam dengan penderitaan yang harus dilalui Messi saat kalah di final 2014.

“MbappĆ© memiliki ketenangan pikiran yang datang karena dia sudah pernah memenanginya,” kenang Messi. “Sedangkan bagi saya, saya mengalami hal yang berbeda. Mencapai final pada 2014 dan tidak memenangkannya adalah sebuah penderitaan yang luar biasa. Jadi saya tahu persis betapa sulitnya menerima kekalahan di laga puncak.”

Messi Melesat, Pecahkan Rekor Gol Sepanjang Masa

Memasuki Piala Dunia 2026, Lionel Messi yang kini menginjak usia 38 tahun membuktikan bahwa sentuhan magisnya belum pudar. Mengawali turnamen dengan performa meledak-ledak, kapten Argentina ini langsung membukukan hattrick spektakuler saat melumat Aljazair 3-0, sebelum kembali tampil menentukan di laga kontra Austria.

Tambahan pundi-pundi gol tersebut mengantarkan Messi mengoleksi 18 gol di putaran final Piala Dunia. Catatan fantastis ini resmi memecahkan rekor legendaris milik bomber Jerman, Miroslav Klose (16 gol), menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen.

Kendati baru saja memahat tinta emas, Messi memilih bersikap bersahaja dan mengutamakan kebahagiaan tim.

“Sejujurnya, saya tidak tahu [soal rekor itu]. Saya bahkan tidak benar-benar mengingatnya. Saya lelah, tenaga saya sudah terkuras habis dan rasanya sulit untuk berpikir jernih,” ujar Messi sembari tersenyum. “Saya hanya ingin menikmati momen ini dan merayakannya bersama rekan-rekan setim saya.”

MbappƩ Menolak Menyerah, Terus Tempel Rekor Messi

Di kubu seberang, Kylian MbappƩ menolak untuk tertinggal dalam perburuan sejarah. Kapten tim nasional Prancis ini tampil luar biasa dengan memborong masing-masing dua gol saat Les Bleus menumbangkan Senegal dan Irak.

Dengan koleksi empat gol di fase awal turnamen ini, MbappƩ kini menyamai catatan 16 gol milik Miroslav Klose. Hebatnya, penyerang Real Madrid ini mencapainya dalam jumlah partisipasi edisi turnamen yang jauh lebih sedikit ketimbang sang legenda Jerman.

MbappƩ secara terbuka mengakui bahwa Messi adalah sosok spesial yang berada di garis depan, namun hal itu justru memacunya untuk tampil habis-habisan.

“Saya sudah tahu Leo akan mencetak gol—dia adalah Leo Messi, dia selalu melakukannya,” puji MbappĆ©. “Dia adalah pemegang rekor teratas, sementara saya berada di belakangnya. Tugas saya adalah terus berjuang mencetak gol demi membantu tim saya melaju sejauh mungkin.”

Respek Tinggi Dua Mantan Rekan Setim

Rivalitas ini terasa kian menarik karena dibalut dengan rasa saling menghormati yang tinggi. Pernah berbagi ruang ganti yang sama saat membela Paris Saint-Germain (PSG), MbappƩ sejak dulu tidak pernah ragu menempatkan Messi di kasta tertinggi pesepak bola dunia.

“Lionel Messi adalah pemain terbaik di dunia bersama Cristiano [Ronaldo],” tegas MbappĆ©. “Selama 15 tahun, dia telah mempertontonkan kualitas yang luar biasa. Bagi saya pribadi, saya hanya mencoba memberikan yang terbaik di panggung terbesar ini untuk membantu negara saya memenangi Piala Dunia.”

Banyak pihak memprediksi bahwa puncak karier Messi telah usai setelah ia mengangkat trofi di Qatar empat tahun lalu. Namun, perjalanannya di tahun 2026 membuktikan bahwa sang maestro selalu punya kejutan tersendiri.

Jika takdir kembali mempertemukan Argentina dan Prancis di fase gugur atau bahkan partai final Piala Dunia 2026, dunia dipastikan akan kembali menahan napas menyaksikan babak terbaru—atau mungkin babak pamungkas—dari duel dua raja sepak bola modern ini.

Tinggalkan komentar