Bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, memprediksi bahwa dirinya kelak akan bertransisi ke posisi bermain sentral, mengikuti jejak langkah taktis legenda klub, Lionel Messi. Pemain berusia 18 tahun yang sarat bakat ini memang tengah tampil brilian di sektor sayap, baik untuk klub maupun tim nasionalnya. Namun, ia sangat yakin bahwa bergeser ke tengah adalah langkah mutlak demi menghindari pengawalan ketat tiga pemain (triple-marking) yang kerap ia hadapi saat ini.
Mengikuti Jejak Karier Messi
Yamal terus menjadi buah bibir di dunia sepak bola berkat lonjakan performanya yang luar biasa. Banyak penggemar dan pengamat sepak bola yang membandingkan lintasan kariernya saat ini dengan sang legenda terbesar yang pernah mengenakan seragam Blaugrana. Sama seperti ikon asal Argentina ituโyang bertransisi dari pemain sayap mematikan menjadi seorang playmaker genius di lini tengahโYamal juga meramalkan masa depannya akan jauh dari garis tepi lapangan.
Dalam wawancara terbarunya bersama El Mundo, remaja fenomenal ini menjelaskan alasan di balik pandangan taktisnya:
“Saya rasa Leo [Messi] juga sering dikawal oleh tiga pemain. Dan satu-satunya tempat di mana tiga pemain tidak bisa mengawal Anda secara bersamaan adalah di tengah. Sesederhana karena ada terlalu banyak pemain di sana. Seiring berjalannya waktu, saya akan berakhir di sana, karena sangat mudah bagi lawan untuk bertahan dengan tiga pemain di sayap, tetapi mereka sama sekali tidak bisa mengawal saya dengan cara yang sama di area tengah.”
Menjadi Ancaman yang Jauh Lebih Berbahaya

Bintang jebolan Euro 2024 ini sekarang menjadi tumpuan yang sangat bisa diandalkan di sayap kanan. Ia secara sempurna memanfaatkan kecepatan dan trik-trik apiknya untuk merusak barisan pertahanan rapat lawan. Akan tetapi, Yamal mengakui bahwa potensi sejatinya sebagai penentu kemenangan akan jauh lebih besar jika ia beroperasi di ruang sempit di antara struktur pertahanan yang solid. Ia pun sesekali sudah memamerkan fleksibilitasnya saat ditugaskan dalam peran yang jauh lebih sentral.
“Saya bisa berhadapan satu lawan satu dengan bek di tengah. Saya menjadi pemain yang jauh lebih menentukan jika saya bermanuver ke tengah dibandingkan jika saya menyisir ke sayap,” tegas Yamal. “Tentu saja, saat ini saya pikir jauh lebih baik bagi tim jika saya terus bermain di sayap. Tapi pasti akan tiba saatnya ketika saya menjadi lebih menentukan di tengah. Dan saya akan berakhir di sana.”
Tantangan Menghadapi Penjagaan Berlapis
Tim-tim lawan telah dengan cepat menyadari bahwa membiarkan pemain muda ini dalam situasi satu lawan satu (one-on-one) adalah sebuah resep bunuh diri. Yamal mengungkapkan bahwa ia kini sudah sepenuhnya terbiasa dikepung oleh banyak bek sekaligus. Hebatnya, ia tetap sangat tenang dalam mencari cara-cara kreatif untuk melewati jebakan taktis tersebut, salah satunya dengan melibatkan rekan setimnya secara jauh lebih efektif.
Ketika ditanya mengenai seberapa intens penjagaan yang biasa ia terima di lapangan, Yamal merespons:
“Setidaknya tiga [pengawal]. Kalau saya beruntung, dua. Tapi satu lawan satu, tidak pernah, sama sekali tidak. Jadi saya mulai memikirkan skema permainan: Saya berbicara dengan bek sayap (full-back) dan memberitahunya, ‘Jika saya mengoper bola kepada Anda, lakukan ini.’ Pelatih juga memberi tahu saya, ‘Jika ada tiga pemain yang terus-menerus mengawasimu, itu berarti ada tiga rekan setimmu yang benar-benar bebas.’ Jadi, ini lebih banyak tentang membangun serangan dari belakang, tentu saja. Tetapi menggiring bola sepenuhnya adalah soal improvisasi. Anda tidak bisa merencanakannya. Itu mustahil.”