Fakta-Fakta Menarik Seputar Hattrick di Piala Dunia

Hattrick (torehan tiga gol dalam satu pertandingan) selalu disambut dengan antusiasme luar biasa oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia, terlebih jika momen magis itu terjadi di panggung termegah dari segalanya—Piala Dunia.

Piala Dunia 2026 saat ini baru berjalan separuh jalan di fase grup yang ketat, namun dua hattrick spektakuler telah tercipta: Lionel Messi menorehkan pencapaian tersebut saat mengantarkan Argentina menang telak 3-0 atas Aljazair, sementara Jonathan David juga memborong tiga gol ketika Kanada membantai Qatar dengan skor telak 6-0.

Secara keseluruhan, sepanjang sejarah panjang turnamen akbar ini, telah tercatat 56 hattrick di putaran final Piala Dunia. Masing-masing torehan tersebut membawa latar belakang kisah yang sepenuhnya unik dan memikat.

Hattrick Tercepat

Mundur ke bulan Juni 1954, hanya 24 menit setelah peluit kick-off dibunyikan, striker Erich Probst sukses mencetak hattrick dengan membobol gawang lawan pada menit ke-4, ke-21, dan ke-24. Performa gemilangnya di awal laga membantu timnas Austria melumat Cekoslowakia 5-0 di fase grup. Bahkan sebelum rentetan golnya terjadi, rekan setimnya, Ernst Stojaspal, sudah lebih dulu membawa Austria unggul cepat pada menit ke-3.

Catatan Erich Probst ini masih sah memegang rekor hattrick tercepat yang dihitung sejak kick-off pertandingan dalam sejarah Piala Dunia. Namun, jika acuannya adalah jeda waktu tersingkat antara gol perdana dan gol ketiga dicetak, rekor Probst bukanlah yang paling kilat. Pencapaian sensasional itu dipegang oleh pemain Hungaria, László Kiss, yang sukses membukukan hattrick hanya dalam rentang waktu super cepat, yakni 7 menit 42 detik, pada Piala Dunia 1982 dalam laga sengit melawan El Salvador.

Pencetak Hattrick Termuda dan Tertua

Hingga detik ini, legenda sepak bola Pelé masih tak tergoyahkan sebagai pemain termuda yang pernah mencetak hattrick di ajang Piala Dunia. Pada 24 Juni 1958, saat Brasil menumbangkan Prancis 5-2 di laga semifinal pertama, usianya baru menginjak 17 tahun 244 hari. Menambah kesan fenomenal pada legasinya, Pelé merupakan satu-satunya pemain yang sanggup mencetak hattrick di turnamen ini sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-18.

Berbanding terbalik dengan pencapaian usia muda Pelé, Lionel Messi kini resmi menahbiskan dirinya sebagai pemain tertua yang pernah mencetak hattrick di Piala Dunia. Pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Messi tampil brilian dengan memborong ketiga gol untuk membawa Argentina menang 3-0 atas Aljazair. Rekor luar biasa ini ia ciptakan tepat di usia 38 tahun 357 hari.

Koleksi Hattrick Terbanyak di Piala Dunia

Sampai saat ini, hanya ada tiga pemain luar biasa yang sanggup mencetak lebih dari satu hattrick di ajang Piala Dunia. Deretan legenda tersebut adalah: Just Fontaine dari Prancis (yang pada 1958 mencetak empat gol ke gawang Jerman Barat serta sebuah hattrick melawan Paraguay), Sándor Kocsis dari Hungaria (yang pada 1954 mencetak hattrick perdananya dalam kemenangan telak 9-0 atas Korea Selatan, disusul torehan empat gol dalam kemenangan 8-3 atas Jerman Barat), dan Gerd Müller dari Jerman (yang pada turnamen 1970 tampil impresif dengan mencetak hattrick ke gawang Bulgaria dan Peru).

Lebih jauh lagi, jika kita secara khusus melihat hattrick yang dicetak pada dua edisi Piala Dunia yang sepenuhnya berbeda, Gabriel Batistuta berdiri sendirian sebagai satu-satunya pemain yang mampu melakukannya. Striker tajam Argentina ini secara gemilang mencetak tiga gol ke gawang Yunani pada Piala Dunia 1994, sebelum akhirnya menambah koleksi hattrick lain tepat empat tahun kemudian di Piala Dunia 1998 Prancis, kali ini dengan melepaskan ketajamannya ke gawang Jamaika.

Hattrick di Partai Final

Pada tahun 1966, Inggris dengan bangga menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan di turnamen inilah Geoff Hurst mengukir legasinya sebagai pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak hattrick di laga final. Penampilan tiga golnya yang tak terlupakan di Stadion Wembley yang ikonik menjadi kunci krusial bagi Inggris untuk mengunci kemenangan dramatis 4-2 atas Jerman Barat.

Melompat ke tahun 2022, keajaiban di laga final itu secara ajaib terulang kembali. Kylian Mbappé secara dramatis mencetak tiga gol untuk timnas Prancis di partai puncak turnamen. Sayangnya, terlepas dari upaya individu heroiknya, torehan itu pada akhirnya belum cukup untuk membawa Prancis sukses mempertahankan gelar dan memenangi kejuaraan.

Argentina, yang dipimpin dengan ahli oleh Lionel Messi, menampilkan performa tim yang luar biasa, hingga akhirnya membawa laga berlanjut ke babak adu penalti yang menegangkan usai bermain imbang 3-3 di perpanjangan waktu. Pada akhirnya, skuad tangguh asal Amerika Selatan itu keluar sebagai pemenang dengan menaklukkan lawannya 4-2 di babak adu penalti untuk merengkuh trofi tertinggi.